pengobatan hipertesi
April 22, 2020 Oleh admin 0

Diagnosis, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Hipertensi

Pengertian Hipertensi

Hipertensi merupakan kondisi di mana terjadi peningkatan tekanan darah di atas normal atau kronis (dalam waktu yang lama) pada diri seseorang. Timbulnya hipertensi sendiri sukar dideteksi oleh tubuh kita sendiri. Dengan mengukur tekanan darah kita secara teratur menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui adanya hipertensi

Hipertensi merupakan pembunuh diam-diam, silent killer karena diketahui 9 dari 10 orang yang memiliki riwayat hipertensi tanpa diketahui penyebab penyakitnya. Dampak buruk hipertensi baru diketahui seseorang setelah ia mengalami komplikasi, dan gangguan organ seperti gangguan fungsi jantung, koroner, fungsi ginjal, serta gangguan fungsi kognitif atau stroke. Adanya hipertensi berdampak terhadap berkurangnya harapan hidup para penderitanya.

Para penderita hipertensi menghadapi 2(dua) realitas yaitu tingginya angka kematian juga mahalnya biaya pengobatan dan biaya perawatan yang harus ditanggung oleh para penderita hipertensi. Hipertensi juga berpengaruh terhadap berkurangnya kualitas hidup seseorang.

Orang tua dengan riwayat hipertensi dapat menurunkan kepada anaknya. Kecenderungan anak menderita hipertensi akan lebih besar ketika orang tuanya terkena hipertensi, dibandingkan dengan anak yang memiliki orang tua tanpa riwayat hipertensi.

Diagnosis hipertensi

Seseorang disebut memiliki hipertensi ketika tekanan sistolik/ diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (tekanan darah normal 120/80 mmHg). Tekanan Sistolik merupakan tekanan darah ketika jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (pada saat jantung mengkerut).  Sedangkan tekanan Diastolik adalah tekanan darah ketika jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong).

Hipertensi diklasifikasikan berdasarkan seberapa tinggi tekanan darah dapat meningkatkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Berdasarkan guidelines yang dirilis WHO tahun 1999, tekanan darah normal berada di bawah 130/85 mmHg. Bila lebih dari 140/90mmHg maka diklasifikasikan sebagai hipertensi. Disebut normal tinggi bila tekanan darah di antara 130/85 mmHg dan 140/90mmHg

Gejala hipertensi

pusing, muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk terasa pegal, dan lain-lain merupakan gejala yang lazim dialami oleh penderita hipertensi. Hipertensi juga berdampak terhadap kerusakan ginjal, pendarahan pada selaput bening (retina mata), pecahnya pembuluh darah di otak, serta kelumpuhan.

Baca juga  10 Manfaat Mengkonsumsi Pepaya Untuk Kesehatan

Penyebab Hipertensi

Berdasarkan penyebabnya, Hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu

Hipertensi esensial atau primer

Hingga saat ini masih belum dapat diketahui apa yang menjadi penyebab pasti dari hipertensi esensial. Namun, ada beberapa faktor diduga ikut berperan sebagai penyebab hipertensi primer, seperti misalnya bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas (keturunan). Kurang lebih 90% penderita hipertensi termasuk kategori Hipertensi primer dan sisanya 10% nya adalah hipertensi sekunder.

Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang diketahui penyebabnya, antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan pada kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain lain. Karena penderita hipertensi didominasi oleh hipertensi esensial  maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita hipertensi esensial.

Ada beberapa cara yang mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan darah di dalam pembuluh arteri;

– Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya

– Karena faktor usia lanjut , saluran arteri menebal dan menjadi kaku. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga saluran arteri tidak dapat mengembang ketika jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu, darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan darah.

– Tekanan darah meningkat karena bertambahnya cairan dalam sirkulasi. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.

Oleh sebab itu, jika aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi. Maka tekanan darah akan menurun atau menjadi lebih kecil.

Pencegahan Hipertensi

Dengan mengatur pola makan yang baik serta diimbangi oleh aktifitas fisik yang cukup dapat mencegah timbulnya hipertensi. Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol perlu dihindari karena berpengaruh dalam meningkatkan resiko hipertensi meskipun mekanisme timbulnya belum diketahui secara pasti.

Baca juga  Asal Usul, Khasiat serta Manfaat Buah Pinang Untuk Pengobatan

Pengobatan Hipertensi

Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena olah raga isotonik (seperti misalnya dengan bersepeda, jogging, aerobic) yang jika dilakukan dengan teratur dapat memperlancar peredaran darah, sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Manfaat lain dengan berolah raga yaitu dapat mengurangi/ mencegah obesitas dan mengurangi asupan garam ke dalam tubuh (tubuh yang mengeluarkan keringat akan mengeluarkan garam lewat kulit).

Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

  1. Pengobatan non obat (non farmakologis)
  2. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)

Pengobatan non obat (non farmakologis)

Pengobatan non farmakologis terkadang bisa mengendalikan tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya ditunda. Sedangkan pada keadaan di mana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik.

Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :

  • Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
  • Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.
    Pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal, tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis.
  • Ciptakan keadaan rileks
    Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
  • Melakukan senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu.
  • Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol

Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)

Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.

  • Diuretik
    Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan.
    Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid.
  • Penghambat Simpatetik
    Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas ).
    Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin dan Reserpin.
  • Betabloker
    Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial.
    Contoh obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati.
  • Vasodilator
    Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing.
  • Penghambat ensim konversi Angiotensin
    Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah).
    Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang mungkin timbul adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.
  • Antagonis kalsium
    Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.
  • Penghambat Reseptor Angiotensin II.
    Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual.
Baca juga  3 Cara Sederhana Untuk Mencegah Batu Ginjal

Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.

Sumber:
Makalah Degeneratif  dan Istilah-istilah dalam Status Gizi –
Yonatan Daniel Panjaitan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Cendrawasih Papua

Baca juga:
Efek kebiasaan pola makan tidak teratur pada anak dan dewasa