pengendalian asma
September 13, 2020 Oleh admin 0

7 Langkah Praktis Pengendalian Asma

Penyakit Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran pernapasan yang berfluktuasi dan individual. Penyakit ini dapat diobati, dikontrol dengan baik, tidak mengganggu aktivitas dan tidak mengganggu prestasi penyandang Asma.

Penyakit Asma dapat menjadi lebih berat dan dapat mengganggu aktifitas bila tidak dikendalikan dengan baik serta tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, bahkan dapat mengakibatkan kematian bagi penderitanya bila tidak menerapkan pengelolaan yang baik.

7 langkah praktis mengendalikan asma meliputi :

  • Memahami seluk beluk penyakit asma
  • Menilai berat ringannya penyakit
  • menghindarkan faktor pencetus
  • Menggunakan obat obatan yang tepat
  • Mengatasi serangan akut dengan segera
  • Memeriksakan diri secara teratur
  • Meningkatkan kebugaran fisik dengan latihan dan olah raga
  • Tujuan penatalaksanaan asma agar tercapai penyakit asma yang terkontrol.

Yang dimaksud dengan asma terkontrol adalah :

  • Tidak ada gejala asma pada malam hari menjelang dinihari
  • bila timbul gejala asma mudah diatasi
  • Perubahan APE harian tidak naik turun [ < 20% ]
  • Kegiatan harian tidak terganggu
  • Tidak ada efek samping obat
  • Menggunakan obat asma sesuai dengan pembagian derajat asma

Asma tidak terkontrol terjadi oleh karena beberapa hal sebagai berikut :

  • Obat tersedia tetapi tidak tepat cara pakainya
  • Obat tersedia tetapi tidak tahu cara pakainya
  • Obat tersedia tetapi tidak tahu gunanya obat
  • Obat tidak tersedia karena ketidakmampuan ekonomi
  • Obat tidak tersedia karena tidak diberikan oleh karena tidak mengetahui perkembangan penyakit asma pasien
  • Pasien tidak patuh karena tidak mengerti pola perjalanan penyakit asma
  • Pasien tidak patuh karena keterbatasan komunikasi antara provider dengan pasien

1.Memahami Penyakit Asma

Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran nafas yang menyebabkan hiperreaktiviti bronkus sehingga memudahkan terjadinya penyempitan saluran nafas.

Mekanisme terjadinya gejala asma:

  • Inflamasi kronik
  • Hipersensitifiti/ mudah memberikan reaksi
  • Produksi lendir atau dahak
  • Bronkokonstriksi=pengerutan saluran napas
  • Berdasarkan mekanisme tersebut pemberian obat asma terdiri dari obat controller ( obat pengontrol asma) dan obat reliefer (obat pelega napas) . Obat pengontrol asma yaitu obat anti inflamasi dan diberikan dalam waktu yang panjang dengan dosis yang diturunkan secara bertahap. Obat pelega napas digunakan untuk melegakan jalan napas.
Baca juga  Tes buta warna, jangan takut untuk menghadapinya

Pola penyakit asma umumnya adalah fluktuatif artinya pola penyakit dapat berbeda dari waktu ke waktu; dapat tenang terkontrol tanpa gejala tetapi dapat timbul serangan bila terpapar oleh faktor pencetus. Bila terjadi asma dengan serangan maka akan mengganggu aktifitas dan menimbulkan gejala asma seperti batuk, produksi lendir, sesak napas dengan mengi atau tanpa mengi.

Individual artinya untuk setiap orang berbeda derajat penyakitnya demikian pula halnya dengan factor pencetus dan jenis obat yang digunakan.

2. Menilai berat ringannya penyakit

Pasien Asma berdasarkan gejala klinis dan fungsi parunya terbagi atas derajat asma intermitten, persisten ringan, persisten sedang, dan persisten berat. Pembagian ini digunakan untuk memilih obat dan perencanaan pengobatan.

Dengan kepatuhan dan obat yang tepat, diharapkan derajat asma dapat menjadi lebih ringan dan jumlah obat yang digunakan berkurang. Bila pengobatan tidak tepat dan pasien tidak patuh, maka derajat asma akan menjadi lebih berat

3. Menghindari faktor pencetus Asma

Pasien asma sebaiknya mengenal apa yang menjadi faktor pencetus terjadinya asma serangan karena setiap orang akan berbeda sensitifiti dan jenis pencetusnya.

Artikel asli:
Tujuh Langkah Praktis Mengendalikan Asma
Ditulis oleh: Dr. Alex K. S. Ginting, SpP FCCP
RS. Mitra Keluarga