Oksigen Langka dan Harganya Melambung Tinggi, Ini Penyebabnya!

Oksigen Langka dan Harganya Melambung Tinggi, Ini Penyebabnya!

Beberapa hari ini di berbagai portal berita online dan juga di berbagai stasiun TV menyoroti kelangkaan oksigen hampir di seluruh wilayah. Tak hanya itu, harganya pun melambung tinggi, mencapai 400% dari hari biasanya. Kondisi ini tentu sangat mencemaskan, mengingat oksigen sangat dibutuhkan untuk mereka yang terpapar Covid-19. Masyarakat terpaksa harus rela antri untuk mendapatkan isi ulang oksigen, nyawa taruhannya. Timbul pertanyaan, mengapa terjadi kelangkaan oksigen berikut tabungnya yang sedemikian parah?

Kita tentu masih ingat ketika awal pandemi virus Covid-19 melanda negeri ini, di mana sekotak masker bedah 3ply yang biasanya hanya dijual Rp.20.000, harganya melambung tinggi, hingga Rp.400.000 per kotak isi 50pcs. Hal yang sama kini juga terjadi pada harga tabung oksigen. Tabung oksigen ukuran 1m3 yang sebelumnya dijual di kisaran harga Rp. 700 ribuan naik hingga mencapai Rp.1.4 jutaan. Tabung oksigen 6m3 yang sebelumnya dijual Rp.1.2 jutaan, harganya kini mencapai Rp. 3jutaan.

Back to laptop, apa penyebabnya?

kelangkaan oksigen

Panic Buying

Yang pertama, terjadi panic buying di masyarakat, sehingga ada banyak keluarga yang kaya memborong stok tabung yang ada. Ada satu keluarga yang membeli hingga 6 tabung oksigen. Hal ini membuat masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang pas-pasan tidak kebagian tabung oksigen.

Lonjakan kasus Covid-19

Penyebab mahalnya harga tabung oksigen berikutnya adalah, karena memang terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia. Salah satunya karena masuknya varian Delta dari India, yang konon sangat mudah menular dan hanya butuh waktu sebentar untuk menginfeksi seseorang. Salah duanya, sebagai imbas kengeyelan pemudik yang tak kuasa menahan rindu pada kampung halaman pada saat momen Idul Fitri beberapa waktu lalu.

Serba salah memang, karena mudik lebaran merupakan kearifan lokal yang memang berlangsung tiap tahun, yang konon hanya ada di Indonesia. Sedangkan pada tahun sebelumnya, mereka juga tidak bisa mudik karena pandemi. Bagaimanapun upaya pihak kepolisian beserta gugus tugas Covid-19 membendung dan menyekat jalanan di tiap kota/ kabupaten, tetap jebol karena antusiasme pemudik.

Ya, inilah potret sebagian masyarakat Indonesia. Melihat Indonesia tak perlu dari Sabang sampai Merauke, tapi cukup dari Jembatan Suramadu yang beberapa saat lalu terjadi rusuh, karena masyarakat enggan untuk melakukan rapid test Antigan sebagai syarat untuk bisa memasuki Kota Surabaya. Melihat Indonesia cukup dari jebolnya titik-titik penyekatan pada saat musim mudik lebaran Idul Fitri yang lalu.

Dan yang mengkhawatirkan adalah, melonjaknya kasus covid-19 ini tidak dibarengi dengan peningkatan suplai oksigen cair dari pabrikan, sehingga banyak depo-depo pengisian oksigen tidak dapat beroperasi maksimal dalam mengisi tabung oksigen.

Dan dengan melonjaknya harga tabung oksigen sebagai imbas kelangkaan tabung oksigen, semoga dapat menyadarkan kita semua bahwa kita harus menghadapi bencana pandemi Covid-19 ini secara bersama-sama. Para nakes kita sudah kepayahan dengan membludaknya pasien terpapar Covid ini, jangan kita menambah lagi beban mereka. Mulai dari diri kita sendiri, sudahkah menerapkan protokol kesehatan dengan benar?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.